“Saya lari sampai di depan rumah Om Vester Leu. Saya pukul-pukul pintu rumah itu minta tolong supaya bisa masuk, tetapi pintunya tidak dibuka.
Upaya menyelamatkan diri tersebut ternyata tidak berhasil. Saat hendak kembali melarikan diri, korban mengaku telah dikepung oleh enam orang itu. “Saya mau lari lagi, tetapi mereka sudah kerumuni saya. Mereka langsung pukul saya sampai jatuh,” katanya.
Korban menyebut jumlah pelaku yang mengeroyok dirinya mencapai enam orang. Namun dari seluruh pelaku, ia hanya mengenali satu orang yakni Yogi Neonbeni. Mereka ada enam orang. Yang saya kenal hanya Yogi Neonbeni. Lima orang lainnya saya tidak kenal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengeroyokan diduga terus berlangsung hingga korban terjatuh dan kehilangan kesadaran. Mereka pukul saya sampai jatuh dan pingsan di depan rumah Om Vester Leu. Setelah itu saya sudah tidak sadar lagi dan tidak ingat apa-apa,” tuturnya.
Kesadaran korban baru kembali ketika dirinya sudah berada di Rumah Sakit Ben Mboi Kupang. “Saya mulai sadar lagi saat sudah ada di rumah sakit di Kupang,” katanya.
Yohanes mengaku tidak mengetahui bagaimana dirinya dievakuasi maupun siapa yang membawanya ke fasilitas kesehatan setelah kejadian tersebut. Ia juga tidak mengetahui kondisi sepeda motornya yang digunakannya saat peristiwa berlangsung.
Saat saya dipukul, motor saya masih berdiri. Kalau setelah itu dirusak atau tidak, saya tidak tahu karena sudah tidak sadar. Dirinya mengaku heran dengan peristiwa yang menimpanya. Pasalnya, ia menegaskan tidak pernah memiliki persoalan pribadi dengan para terduga pelaku, termasuk dengan Yogi Neonbeni.
“Kami sebelumnya tidak punya masalah apa-apa. Dengan masyarakat sekitar Ekavalo juga saya tidak pernah bermasalah. Bahkan, hubungan antara dirinya dan Yogi Neonbeni masih memiliki ikatan keluarga.
“Yogi itu ipar saya. Dia menikah dengan sepupu saya,” jelas Yohanes.
Ia juga membantah bahwa dirinya berada dalam kondisi mabuk berat saat singgah di lokasi tersebut.
“Saya baru selesai antar istri ke rumah mertua. Saat mampir itu kami hanya minum satu botol bersama enam orang itu. Saya sendiri hanya minum dua sloki,” ujarnya.
Menurut Yohanes, selama kebersamaan mereka malam itu tidak ada cekcok maupun pertengkaran. Mereka hanya berbincang seperti biasa hingga akhirnya persoalan muncul ketika para terduga pelaku meminta sebotol sopi yang dibawanya.
“Awalnya kami hanya cerita biasa. Tidak ada masalah sama sekali. Tapi saat mereka lihat saya bawa satu botol sopi dan minta untuk diminum bersama, saya tidak kasih. Dari situ kejadian itu bermula,” tutupnya.
Kasus dugaan pengeroyokan yang menyebabkan korban mengalami luka berat tersebut kini diharapkan dapat memperoleh penanganan hukum lebih lanjut dari Kepolisian Resor TTU guna mengungkap seluruh pihak yang terlibat serta memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










