Pesan untuk Para Imam.
Sebagai seorang mahasiswa Katolik di Universitas Timor, saya dengan penuh hormat mengingatkan: imam adalah gembala, bukan pejabat. Gereja tidak dipanggil untuk menikmati fasilitas, melainkan untuk berjalan di jalan debu bersama umatnya.
Jika fasilitas dari negara benar-benar dipakai untuk pelayanan umat, maka gunakanlah secara sederhana dan transparan. Namun bila fasilitas itu justru menggerus kebebasan profetis Gereja, maka lebih baik menolak daripada kehilangan wibawa moral di mata umat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menyadarkan, Bukan Menjatuhkan.
Pertanyaan “Di mana peran Gereja?” adalah cermin yang disodorkan umat kepada para imam. Kritik ini bukan tanda kebencian, melainkan jeritan hati yang rindu melihat Gereja kembali ke jati dirinya: sederhana, berpihak pada miskin, dan berani menjadi suara kenabian.
Hari ini, umat Timor menunggu jawaban. Apakah Gereja akan terus melangkah bersama rakyat kecil, atau perlahan bergeser ke lingkaran elit kekuasaan?
Sebagai mahasiswa Katolik, saya percaya Gereja masih bisa memilih jalannya. Dan jalan itu bukan jalan kemewahan, melainkan jalan salib jalan kesederhanaan, keberanian, dan cinta kepada umat yang menderita.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










