Oleh: Maria Renya Nahak
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gardatimor.Id – Gereja Katolik Selama Ini Dipandang Sebagai Rumah Iman, Tempat Umat Mencari Penghiburan dan Teladan Hidup. Namun di tengah Kenyataan Sosial Yang Semakin Timpang, Muncul Pertanyaan Kritis Yang Menggema Dari Ruang-ruang Publik, Dari Meja Kopi Rakyat Kecil Hingga Jagat Media Sosial: “Di mana Peran Gereja?.
Pertanyaan ini lahir dari kontras antara kenyataan di lapangan dan citra yang diperlihatkan. Umat masih bergulat dengan kemiskinan struktural sawah kering, anak-anak putus sekolah, akses kesehatan terbatas namun pada saat yang sama publik menyaksikan sebagian imam menerima fasilitas mewah dari pemerintah, mulai dari kendaraan, rumah, hingga dukungan lain yang menimbulkan kesan elitis.
Gereja dan Wajah Profetis yang Memudar.
Dalam dokumen Gaudium et Spes, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “suka dan duka manusia zaman ini adalah suka dan duka Gereja.” Artinya, Gereja sejatinya berjalan bersama orang kecil, bukan berdiam di kursi kekuasaan.
Tetapi kini, wajah profetis itu mulai dipertanyakan. Bagaimana mungkin seorang imam bisa menyuarakan kritik terhadap pemerintah, jika fasilitas yang ia nikmati justru datang dari tangan pemerintah? Dalam kerangka sosiologi Weber, kondisi ini menciptakan relasi ketergantungan yang berpotensi mereduksi daya kritis Gereja.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










