Oleh: Kondradus Yohanes Klau (Alumnus Sekolah Demokrasi Belu/Komunitas Indonesia untuk Demokrasi; Dosen Universitas Timor)
Gardatimor.Id – Saya Sedang Tidak Ingin Menulis Hal-Hal Yang Manis. Terlalu Banyak Gula Dalam Politik Justru Membuat Publik Kehilangan Sensitivitas Terhadap Rasa Pahit Yang Mestinya Kita Telan Bersama: Pahitnya Korupsi, Pahitnya Intimidasi, Pahitnya Pemimpin Yang Anti-Kritik, dan pahitnya kecerdasan palsu yang dibungkus pencitraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun sebelumnya, saya ingin disclaimer dulu, bahwa tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan siapapun. Tulisan ini murni sebagai bacaan reflektif bagi pembaca yang memiliki kerinduan sama seperti saya.
Pengantar.
Sepanjang tahun 2025 ini, saya beberapa kali berbicara di banyak komunitas mahasiswa, termasuk di hadapan Solidaritas Mahasiswa Anti Korupsi (SOMAK) Kefamenanu. Ada tiga tema yang saya tekankan: Kepemimpinan Transformasional, Pemimpin Cerdas dan Berdampak, dan Etika Kepemimpinan.
Tiga tema tersebut bukan sekadar hal akademis, teori sebatas ruang kelas. Lebih dari itu merupakan cermin: untuk saya, untuk kita, dan terutama untuk mereka yang sedang atau ingin menjadi pemimpin, termasuk juga di Malaka.
Dan ketika saya memandang ke dalam cermin itu, saya melihat sebuah ironi.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










