Oleh: Kondradus Yohanes Klau
(Alumnus Sekolah Demokrasi Belu – Komunitas Indonesia untuk Demokrasi; Dosen Universitas Timor)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gardatimor.Id – Tulisan Ini Merupakan Kelanjutan dari Refleksi Penulis Sebelumnya (10 Desember 2025) Berjudul Merindu Pemimpin Yang Cerdas, Humanis, dan Tidak Membelenggu: Jugakah di Malaka?.
Dalam tulisan terdahulu, kepemimpinan transformasional sebagaimana dirumuskan oleh James MacGregor Burns (1978) ditekankan sebagai model kepemimpinan yang berakar pada nilai etika dan moral, sekaligus menjadi antitesis terhadap praktik otoritarianisme terselubung yang kerap hadir dalam organisasi modern.
Meskipun menggunakan bahasa akademik, namun jika kita menyimak dengan cermat, sesungguhnya tulisan berikut mengandung kritik sosial terselubung terhadap realitas kepemimpinan di ruang publik yang alergi terhadap kritik, menafsirkan loyalitas sebagai kepatuhan absolut, memonopoli kebenaran dan keberhasilan.
Pengantar
Kreativitas anggota merupakan elemen strategis dalam meningkatkan efektivitas, adaptabilitas, dan daya saing organisasi. Amabile (1996) menegaskan bahwa kreativitas tidak semata-mata ditentukan oleh kapasitas individual, melainkan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan lingkungan kerja yang dibentuk oleh kepemimpinan. Dengan demikian, gaya kepemimpinan memegang peranan krusial dalam mendorong atau justru menghambat munculnya ide-ide inovatif.
Dalam konteks ini, kepemimpinan egois dan otoriter sering kali menjadi faktor penghambat utama bagi berkembangnya kreativitas anggota. Gaya kepemimpinan tersebut menciptakan iklim kerja yang menekan, minim kepercayaan, dan tidak memberi ruang bagi ekspresi gagasan baru.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










