Pembangunan baru dapat disebut berhasil apabila hasilnya benar-benar dirasakan oleh rakyat kecil, mengatasi kesenjangan, memperluas kesempatan pembagunan dari desa, dan menegakan keadilan. Malaka tidak sedang mengejar status daerah kaya semata. Malaka sedang memperjuangkan cita-cita menjadi daerah yang adil.
Lebih dari enam abad lalu, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah telah mengingatkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak bertumpu pada kekayaan alam ataupun besarnya kekuasaan politik. Sebuah peradaban akan bertahan apabila negara mampu melahirkan manusia yang berilmu, produktif, dan menjunjung tinggi keadilan.
Sebaliknya, ketika pembangunan hanya berorientasi pada akumulasi kekayaan tanpa pemerataan di desa, ketika ilmu pengetahuan kehilangan prioritas, dan ketika jurang sosial semakin melebar, maka benih-benih kemunduran mulai tumbuh. Peradaban tidak runtuh dalam sehari, tetapi melemah sedikit demi sedikit karena kehilangan fondasi manusianya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gagasan HOS Tjokroaminoto memberikan perspektif yang tidak kalah penting. Dalam pemikiran Sosialisme Islam, ia menegaskan bahwa negara harus berpihak kepada rakyat, terutama mereka yang lemah secara ekonomi. Kemajuan tidak boleh menjadi hak segelintir elite, tetapi harus menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.
Karena itu, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan kesempatan berusaha bukan sekadar program pemerintah pusat maupun daerah kabupaten Malaka, melainkan instrumen untuk mewujudkan keadilan sosial. Daerah yang berhasil bukanlah daerah yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan daerah yang mampu mengangkat martabat rakyatnya sendiri.
Menuju Malaka Yang Berkeadilan Dan Sejaterah Dalam dua dekade mendatang, jutaan anak muda Malaka akan menjadi penentu arah bangsa. Jika mereka memperoleh pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, dan kesempatan yang setara, bonus demografi akan menjadi mesin kemajuan. Sebaliknya, apabila ketimpangan terus dibiarkan meraja lelah maka bonus demografi dapat berubah menjadi beban sosial bagi generasi Masyarakat Malaka selanjutnya.
Karena itu, Menuju Malaka 2045 tidak boleh berhenti sebagai slogan pembangunan. Ia harus menjadi gerakan membangun peradaban yang berakar pada adat Istiada, Pancasila, UUD 1945 NKRI, yang diperkaya oleh pemikiran Ibnu Khaldun tentang pentingnya kualitas manusia, dan diperkuat oleh gagasan HOS Tjokroaminoto mengenai keadilan sosial.
Sejarah tidak akan mengingat seberapa tinggi gedung yang berhasil kita bangun atau seberapa besar angka pertumbuhan ekonomi yang pernah dicapai.
Sejarah akan mencatat apakah pada 32 tahun Malaka berdiri, Malaka benar-benar berhasil mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa/daerah: membangun daerah yang tidak hanya berkembang, tetapi juga adil, bermartabat, dan memuliakan seluruh masyarakat Malaka.
Yogyakarta, 07 Juli 2026
Penulis
Afondi Nahak
Halaman : 1 2


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










