Pemimpin yang Tampil Kuat, Tapi Rapuh di Dalam.
Kita hidup di era modern, tetapi masih berhadapan dengan tipe pemimpin yang pola pikirnya hidup di masa lampau. Ya, pemimpin yang alergi kritik tapi tidak alergi korupsi, yang ingin terlihat berwibawa tetapi menutup diri terhadap dialog, yang mengaku pintar tetapi gagal menunjukkan kecerdasan dalam keputusan-keputusan sederhana, yang lebih menikmati tepuk tangan semu daripada kerja nyata.
Inilah paradoks yang sering kita jumpai: pemimpin yang terlihat kuat dari luar, tetapi rapuh secara moral di dalam. Rapuh karena integritasnya tipis. Rapuh karena takut pada pikiran kritis. Rapuh karena hanya merasa aman ketika semua orang diam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Rote, tidak membutuhkan tipe pemimpin seperti ini. Tapi faktanya, jika mengikuti pemberitaan-pemberitaan media nasional dan lokal, masih banyak yang memimpin dengan gaya demikian.
Kepemimpinan Transformasional: Antitesis dari Otoritarianisme Terselubung.
Kepemimpinan transformasional merupakan model kepemimpinan yang bertumpu pada nilai etika dan moralitas. Konsep tersebut dipopulerkan oleh James MacGregor Burns, “Bapak Kepemimpinan Transformasional”, melalui karya Leadership (1978) dan Transforming Leadership (2004).
Bagi MacGregor, gaya kepemimpinan transformasional mengubah kesadaran pengikut agar bekerja demi kepentingan bersama, bukan sekadar tujuan pribadi. Oleh karena itu, kepemimpinan ini menuntut perubahan, bukan melalui tangan besi, tetapi melalui visi dan keteladanan. Ia adalah lawan langsung dari kepemimpinan yang membelenggu.
Seorang pemimpin transformasional tidak membungkam kritik, tetapi membacanya; tidak menakut-nakuti rakyat, tetapi memampukan mereka; tidak manipulator, tetapi inspirator.
Di banyak tempat, kita melihat bagaimana pemimpin membangun kekuatan dengan menciptakan ketakutan. Namun pemimpin transformasional justru membangun kekuatan dengan memberi harapan.
Dan pertanyaannya sederhana:
Rindukah kita terhadap pemimpin yang memberi harapan daripada ketakutan?
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










