Tidakkah kita pikir bahwa ketika sekolah berubah menjadi ruang yang menakutkan, maka pendidikan telah kehilangan jiwanya?
Budaya Kekerasan yang Sistemik
Kita tidak bisa memandang kasus ini sebagai perbuatan individu semata. Ia adalah gejala dari budaya kekerasan yang masih mengakar dalam praktik pendidikan kita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di banyak sekolah, hukuman fisik masih dianggap “cara efektif mendisiplinkan anak.” Padahal, pendekatan semacam itu justru melahirkan dendam, trauma, dan ketakutan, bukan kedisiplinan sejati.
Kegagalan membina karakter guru, lemahnya supervisi kepala sekolah, serta kurangnya pelatihan tentang pendidikan disiplin positif turut memperparah keadaan.
Membangun Kembali Sekolah yang Humanis
Tragedi Rafi To seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Kita perlu mengembalikan semangat pendidikan yang berbasis kasih, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ada beberapa langkah konkret yang mendesak:
Penegakan hukum yang transparan dan tegas untuk memulihkan kepercayaan publik.
Reformasi pembinaan profesi guru, dengan menekankan pelatihan etika, psikologi anak, dan manajemen emosi.
Audit internal terhadap penerapan disiplin di sekolah oleh Dinas Pendidikan.
Pendampingan psikologis bagi siswa dan keluarga korban, agar luka sosial tidak berlarut-larut.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










