Namun, praktik di lapangan jauh dari semangat hukum tersebut. Masih ada aparat pendidikan yang menoleransi kekerasan dengan alasan “pembinaan karakter”. Dalam beberapa kasus, guru pelaku kekerasan bahkan tidak segera ditahan dengan alasan statusnya sebagai pegawai negeri atau pejabat publik. Inilah yang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan pada penegakan hukum.
Penegakan hukum yang tegas dan transparan menjadi kunci untuk menghentikan mata rantai kekerasan ini. Guru yang melakukan kekerasan terhadap siswa harus diproses hukum sebagaimana mestinya, tanpa pandang bulu. Sebaliknya, guru yang berkomitmen pada pendekatan humanis perlu mendapat dukungan dan penghargaan agar menjadi teladan di lingkungan sekolah.
Dampak Sosial dan Psikologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekerasan fisik di sekolah tidak hanya menimbulkan luka di tubuh anak, tetapi juga luka batin yang dalam.
Anak yang mengalami kekerasan cenderung mengalami trauma, kehilangan rasa percaya diri, menurunnya motivasi belajar, bahkan fobia terhadap sekolah. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berpengaruh terhadap perkembangan sosial dan emosional anak.
Orang tua pun menjadi cemas. Banyak yang mulai mempertanyakan keamanan sekolah bagi anak-anak mereka. Ketika rasa aman di sekolah hilang, maka seluruh tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang cerdas, berakhlak, dan bahagia pun ikut runtuh.
Selain itu, kasus kekerasan juga mencoreng citra profesi guru. Padahal, sebagian besar guru di NTT bekerja dengan dedikasi tinggi di tengah keterbatasan. Namun, beberapa oknum yang melakukan kekerasan membuat publik kehilangan respek terhadap profesi mulia ini.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










