Masyarakat kini semakin cerdas. Mereka tidak lagi mudah dibujuk dengan janji manis. Mereka tahu siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang hanya pandai berbicara. Jalan yang rusak ini menjadi saksi bisu sekaligus pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya dinilai dari proyek mercusuar di pusat kabupaten, sementara wilayah – wilayah perbatasan dan jalur vital lainnya dianaktirikan.
Ketika pemerintah Malaka lebih sibuk membangun monumen, kantor megah, atau kegiatan seremonial yang menghabiskan anggaran besar, rakyat di jalur Umasukaer – Kateri-Harekain-Balibo harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli ban baru atau memperbaiki shockbreaker kendaraan mereka. Bukankah ini bentuk ketidakadilan anggaran?.
Saya menyarankan pemerintah Kabupaten Malaka bersama DPRD Dapil 3 untuk segera duduk bersama mencari solusi yang konkret. Jika memang anggaran provinsi belum turun, lakukan langkah inisiatif sebagaimana yang dilakukan Pemda TTU. Ajukan usulan pergeseran anggaran dan tunjukkan bahwa Anda hadir, bahwa Anda peduli, bahwa kursi yang Anda duduki bukan hanya untuk kenyamanan pribadi tetapi untuk kepentingan rakyat yang memilih Anda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan biarkan jalan ini terus menjadi mimpi buruk yang setiap hari mereka lalui, sementara Anda sendiri tidur pulas di dalam mobil melewatinya tanpa rasa malu.
Lebih jauh, DPRD Dapil 3 seharusnya bersikap proaktif. Jangan hanya menunggu program masuk dari eksekutif, tetapi lakukan pengawasan ketat dan perjuangkan alokasi anggaran secara berkala. Buat laporan publik setiap tahun: apa yang sudah diperjuangkan untuk jalur ini? Di mana macetnya? Siapa yang menghambat?.
Transparansi akan membuat masyarakat kembali percaya. Sebaliknya, diam seribu bahasa hanya akan mempertebal kecurigaan bahwa ada kepentingan lain yang lebih diutamakan ketimbang kebutuhan mendesak warga.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










