Kehilangannya, apalagi jika karena pencurian, adalah bentuk pelanggaran yang menusuk jantung kebersamaan kita. Ini bukan hanya kehilangan fisik, melainkan pengingkaran terhadap martabat. Dan ketika martabat itu tercoreng, kita tidak bisa hanya menunggu proses berjalan lambat tanpa langkah-langkah yang berani.
Salah satu langkah yang bisa dipertimbangkan adalah memanfaatkan kearifan lokal yang sudah diwariskan turun-temurun. Di sinilah hamo mama, atau sumpah adat, dapat hadir sebagai salah satu cara untuk mengurai kebuntuan dan membuka jalan bagi pihak berwajib untuk menemukan kebenaran.
Hamo mama bukan sekadar ritual, melainkan sebuah mekanisme sosial dan moral yang sudah teruji selama ratusan tahun di tengah masyarakat Tetun. Dalam sumpah adat ini, seseorang diminta untuk bersumpah di hadapan leluhur, memanggil saksi-saksi roh yang diyakini menjaga kebenaran, dan menyerahkan dirinya pada konsekuensi supranatural jika ia berdusta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Praktek hamo mama biasanya dilakukan di tempat yang disakralkan, dengan dihadiri tokoh-tokoh adat, keluarga, dan masyarakat yang berkepentingan. Perlengkapannya pun khas: sirih, pinang, tuak atau sopi kadang diiringi dengan doa adat yang panjang, disampaikan dalam bahasa leluhur. Di mata masyarakat adat, sumpah ini lebih menakutkan dari ancaman hukum negara, karena sanksinya diyakini datang langsung dari kekuatan yang tidak kasat mata.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe










